Hujan Yang Merapat


Yang lalu datang di saat yang terlalu terlambat, datang menghampiri dengan semua keindahan yang begitu merapat.

Saat hujan begitu derasnya menerka semua kegersangan yang ada, mulai ada tarian yang menarik rasa menjadi awan tak berkesudahan. Semua kembali pada masa awal di tempat yang sama dalam momen yang berbeda, mungkin karena derasnya ntah sungguh atau nyata tapi semuanya terjalin begitu seperti saudara yang penuh canda tawa.

Di malam yang begitu menggenang itu, ntah kebetulan atau bukan tetapi mengulang warna tubuh yang pernah ada saat dulu di jari manis melewatkan warna masa-masa lalu mewarnai hal pertama.

Lalu basahan yang begitu menggenang, mulai kering seiring cerita-cerita yang tertanam begitu dalamnya hingga mekar seperti bunga di pagi hari. Ceritanya mulai dari segala resah hingga canda yang begitu amat tenang. Lalu kegilaan yang mulai memainkan seperti wanita pada umumnya di bagian yang begitu meronah seperti apel yang begitu merekah mulai dipermainkan dengan cara saksama hingga waktu meredamkan itu menjadi hening.

Saat hening dipelihara, yang terdengar hanyalah rintikan hujan yang begitu memainkan teduhan kesalahan. Hingga memainkan sesuatu yang pernah terjadi seperti masa-masa sebelumnya dengan mengejamkan mata yang begitu damai terpelihara hitam tak bermaksud yang terus mengulang, dan lalu sampailah pada cerita kenyataan yang begitu menyakitkan saat pengakuan itu diungkapkan dengan cara yang sudah seharusnya diungkapkan, seperti hujan yang begitu setia dengan kegersangan tanah yang menunggunya, terus meresap hingga saling membutuhkan antara keduanya.

Saat semua terbeber dengan segala kerendahan, terurai lah oleh angin yang membawa jauh dan sudah ditunggu oleh sela waktu yang menunggu. Tetapi saat yang terduga terjadi ketika pandangan itu menjauh, terlambailah sebuah dekapan yang begitu lama memainkan alunan rintikan hujan yang begitu menggema di sudut hamparan sunyi. 

Terdiam dengan segala kenyataan, dekapannya masih terus melekat di baju yang tertanam kesetiaan. Hingga sesuatu yang tak seharusnya didengar, keluar dari suara terangnya, tangisan yang begitu menadah lelah hingga menemui pintu kelima tempat ia menginjakan kakinya saat semua terbeber dari kediaman rahasia yang begitu terpendam. 

Hening mulai menjamu dan begitu merapat ..
Dan bunga yang bermekaran cerah kini mulai memudar dan mengering di sudut hamparan jendela dengan suara rintikan yang terus basah. Seakan menjadi sebuah cerita yang terus ada pada hujan yang terus datang mengembalikan keutuhan bunga disana.


Hingga sela waktu menghentikan itu untuk pergi, karena semua telah di takdirkan dari sudut pertama ketika adanya kenyataan yang mengulang bertemu tetapi harus mengakhiri dengan keteguhan yang telah di pegang.

Datang disaat yang terlalu terlambat, datang menghampiri dengan semua kejanggalan yang tenang seperti rintikan hujan yang pelan tetapi membasahkan ketika enggan beranjak untuk menemui semua hal yang ada.

Tetap berteduh walau basah kuyup, kata yang terus memaknai cerita lalu yang memudar.

[05 11 13 23 03]

Komentar