Menggenggam Diam #1

Malam ini hawa dingin sungguh tinggi, beranjak dari kursi tempat ku menulis segala kondisi yang membuka pikiranku untuk memulai yang sudah lama ingin ku isi.

Tapi terlalu dini jika hari ini yang ku tulis mengenai hari hari yang ku lewati. Jadi sebaiknya kita mulai pelan-pelan agar tetap menikmati akhir cerita yang pernah ada dan ku ingat sebagaimana diri ini pernah menari di langit biru tempat awan berlari tiada henti.

Perkenalkan nama ku Noveriansyah Akbar, bukan nama samaran tapi memang nama begitu. aku jika disuruh mendeskripsikan diriku, bakalan sulit karena bakalan aku buat sekeren mungkin jadi sebaiknya jangan. Usia ku sudah melewati dua puluh tahun, dan status belum menikah, bukan karena belum ingin tapi masih ada beberapa yang harus ku temui sebelum hal sakral itu aku lakukan.

Malam ini aku duduk didepan laptop sambil menuliskan semua yang pernah ku ingat dalam bentuk narasi cerita yang nantinya apakah ini bakalan menjadi cerita yang panjang atau hanya sekedar ingatanku tidak lupa saja karena jika aku ingat bakalan membuatku ingin bertemu dan menyapa “kemana saja selama ini, kamu. Iya kamu yang menghilang dan tanpa pamit hingga delapan tahun lamanya.” Mungkin kamu akan menjadi cerita yang penuh aku sebut agar nantinya kamu datang hingga menemui ku kembali di kota khatulistiwa. Kelak mungkin tapi tidak sekarang hingga akhir cerita.

Malam semakin larut, kopi yang kuhirup sudah dingin karena ke asyikan ku menulis yang ntah kapan aku mulai dan dari mana ku mulai. Mungkin mulai dari, tunggu! sulit sekali aku memulai dimana nantinya perjumpaan itu ingin aku tuangkan menjadi bagian bagian yang begitu menjadi awal kenapa sulit aku lupakan. Oke, kita mulai di waktu itu

Siang Itu

Siang begitu menyengat di kota Khatulistiwa, Provinsi Kalimantan Barat. Kota yang membuat orang-orang mengenakan sweater panjang di siang hari, panas yang begitu menyengat tak menghentinkan semangatku untuk mendaftarkan diri di sekolah menengah atas. Sekolah yang terletak di jalan besar kota ini dengan halte bus didepannya dan dikelilingi sekolah lain yang tidak kalah begitu tenarnya di kota ini.

Semangat dan keyakinan tinggi membuatku tetap mendaftarkan diri disana, dari pagi hingga menjelang siang aku berada disana, menunggu waktu diterima atau tidak karena saat pertama mendaftar sudah disuguhkan tes-tes yang cukup sulit untuk dilewati. Perjuanganku cukup panjang dan nekat hingga bisa diterima disini, cukup seperti keajaiban ini terjadi karena bukan orang dari kalangan yang begitu mendominasi untuk sekolah yang kutempati. Tapi Tuhan berkata lain, aku pun diterima dan menjadi kebahagian maupun kesedihan, bahagia dapat diterima tapi sedih karena tidak satupun temanku diterima sekolah yang sama denganku.

Kembali setelah dinyatakan lulus, aku pun senang tapi bingung ingin ku ungkapkan kesiapa, karena aku mendaftar disini tanpa satupun teman ataupun saudara yang bisa merayakan bersama kebahagian ini disini. Cukup aku mengucapkan syukur dan melihat daftar ulang kapan untuk dapat kembali kesini, kebahagian yang ku dapatkan di saat itu sangat ku redam, begitu ku redam hingga membawa ku ingin pulang secepat mungkin, biasa di usia saat itu, handphone menjadi barang mewah jika dimiliki oleh ku saat itu.

Aku pun pulang, tadi tidak langsung kerumah karena rumah ku jauh dari sekolah saat ini. Rumah ku terletak di desa, bukan kawasan kota seperti halnya sekolah ku sekarang ini, jika menggunakan sepeda roda dua membutuhkan waktu 50-65 menit hingga sampai di sekolah. Lumayan menguras tenaga, waktu dan uang. Jadi aku pun pulang tidak langsung ke desa karena siang itu begitu menyengat, jadi niatku ingin singgah dirumah adik dari ibuku yang semenjak aku daftar disini telah banyak membantu hingga ku dapat diterima.

Akhirnya sekitar 20 menit perjalanan dari sekolah, aku pun sampai didepan halaman rumahnya. Dengan perasaan yang masih aku pendam karena bahagia yang begitu tak dapat aku ungkapkan semenjak berita kelulusan itu diterima. Dengan tak sabar, aku mengetuk pintu rumahnya. Beberapa kali panggilan hingga tak ada suara yang menyauti salam ku, dengan beberapa kali ketukan lagi akhirnya ada suara yang berjalan menuju pintu seperti sedang ingin membukaan. Menunggu dibukan pintu saja seperti perasaan yang lama, hingga suara kunci dimainkan dengan pelan, akhirnya terbuka.

Aku pun langsung masuk dan memeluk bibi ku, dan aku mengatakan kalau aku diterima di sekolah. Sapaan itu membuatku menunggu jawabannya dari bibiku, mungkin dia juga bahagia atas diterimanya aku disana. Cuman selang beberapa waktu, aku terhenyak ketika aku mengetahui jikalau itu bukan bibiku!!!

“Maaf, cari siapa?”suara yang keluar dan begitu jelas tanpa ada emosi terdengar
Tangan ku yang tadinya kuat dan erat memeluknya menjadi terhenti dan lepas dengan sendirinya, ketika suara yang keluar adalah suara yang bukan suara khas budaya Kalimantan. Logat bahasa Indonesia yang dia ucapkan begitu kental, terasa sekali gaya metropolitannya terasa asing ditelinga ku.

“Wooo, maaaaaaaf!!!! aku kira kamu bibiku, aku tidak tahu kalau ada orang yang tinggal disini selain mereka.” Dengan gugup dan merasa bersalah yang bisa saja aku dipukul atau dilempar maupun dimaki karena cara yang tak biasa ini terjadi. Tetapi semua itu buyar dari pikiranku, semuanya hilang dan terhenti, udara panas terasa dingin, ntah kenapa kaki ku mundur beberapa langkah dari pintu rumahnya.

“Cari bibi mu yang dikamar 04 itu ya? Dia sepertinya lagi pergi, sekitar 30 menit yang lalu, masuk saja ga papa. Tunggu diruang tamu ya” suara khasnya ntah, membuatku terhenyak masih, ada yang salah dengan ku waktu itu, pikiranku terhenti, rasa bersalah datang lalu pergi.

Aku masih terdiam dan tak menggerakan badanku dari tempat ku berdiri walau sudah beberapa langkah mundur sesaat pelukan itu terjadi. Dia pun masuk kembali beberapa langkah ke ruang tamu, sekitar 3 langkah dan dia pun menoleh dan berkata “Eh, masuk aja ntar gua buatkan minuman, panas loh diluar, ayo masuk ga papa”

Suara itu menyadarkanku kembali dari pikiran yang terhenti, jika dia adalah seseorang wanita! Hingga malam ini aku menuliskan cerita ini, suara itu masih terngiang dan sesosok fisiknya masih tergambar jelas diingatanku. Oke kita lanjut, tapi sebelum itu, aku hirup dulu kopi dinginku ~

Aku pun masuk dengan memainkan berani dan perasaan bersalah yang masih saja terasa pahit. Aku pun duduk di ruang tamu, ruangan itu tidak besar sekitar 5 x 8 meter. Rumahnya biasa tanpa ada hiasaan dan meja meja yang terpampang disudut ruangan, hanya ada satu kursi untuk dapat duduk hingga baring serta meja dengan TV 14 inch. Ruangan saat itu tidak begitu terang, jendela yang ada tidak dibuka hanya tertutup dan rapat karena rumah ini adalah kostan-kostan yang ditempati bibiku, saat pertama kali aku kesini hingga beberapa kali seringnya, tempat ini tidak ada yang menghuni kecuali bibiku, ruangan kostan yang ada dirumah ini ada 8 kamar, tapi karena bibiku sudah 2 bulan disini dan tidak ada yang menghuni kamar lainnya, jadi rumah ini sudah seperti rumah sendiri. Makanya aku kaget kenapa ada orang lain disini, tapi bisa saja dia orang baru, maka dari itu rasa bersalah terus menjadi-jadi dipikiranku.

Aku pun duduk di ruang tamu yang hanya ada satu kursi, dan aku pun duduk di lantainya tepat di depan TV yang tidak menyala. Aku duduk sendiri saat itu, karena wanita yang tadi aku temui sedang ke dapur. Tapi di kursi yang satu-satunya ada di ruangan itu, ada handphone yang tergeletak, aku rasa itu punya wanita tadi.
Suara langkah dari dapur terdengar, aku yang tadinya gugup dan rasa bersalah terusan ada. Tetap mencoba menenangkan diri. Lalu dia sampai di hadapanku, “Ini minumannya, coba aja. Aku yang buat, semoga enak dan cocok dilidah ya.” Ketika aku melihat wajahnya dengan jelas, ada raut senyum yang terlontar ketika dia selesai bicara.

Gelas bening, yang tergeletak di depan ku, isi didalamnya berwarna cokelat kental. Perasaanku ini adalah susu cokelat yang dibuatnya, seperti biasa dengan perasaan bersalah yang masih saja dibenak, aku masih tetap tidak bicara dan hanya membalas itu dengan senyum yang sedikit maksa untuk tetap tersenyum.

Lalu setelah dia mengantarkan minuman padaku, dia pun pergi dan masuk ke kamarnya. Kepergiaan itu membuatku sedikit merasa tenang walau hitam tak bermaksud selalu menghantui pikiranku yang tak kunjung selesai.

Tak lama kemudian, bunyi pintu kamar terbuka, dan suara kaki yang berjalan terasa mendekati ke arah ku, karena pada waktu itu aku duduk menghadap ke TV, sedangkan arah pintu yang terbuka ada dibelakangku.
Akhirnya suara itu semakin mendekat dan saat aku menoleh, dia langsung mengulurkan tangannya.
“Nama gua Pipin ..” diakhiri dengan senyum untuk kedua kalinya.


~

Komentar