Bayangan yang nyata tapi tertenun iri yang berlugas dalam kesenjangan yang diungkapkan dengan kesamaan atau perlakuan yang membedakan itu, setiap dimana menginjakan kaki entah perasaan apa yang membuat itu terasa berat dan tersaingi suatu yang lebih.
Pikiran itu membuat pemanjatan yang benar, bagaikan berlari membawa kelereng untuk duluan sampai hingga seketika itu puas berasa dengan duluan memegang penyelesaian dengan persamaan mengalahkan ribuan mayat yang memanjat kehatinya, persaingan itu membuka perasaan pada diri dan berpikir bahwasanya Sang Pencipta menciptakan dia berupa kekurangan yang amat parah, padahal ia hanya melihat dari sisi petikan koma di kepalanya.
Sering di temui cemburu pada tingkat separuh, dengan merenungi nasib setimpal pada akan sepadannya, yah berjalan duluan untuk orang mengakui diri, sama saja menyombongkan diri yang tak merekah putih mala layu sehingga tertijak asupan debu yang berderai.
berupa kesalahan mandau menancap diri, yang hanya ingin menjadi terhebat di sekeliling, tanpa kata pun itu hati membenarkan diri dan bersifat normal yang nyata bahwa dia Manusia !
berpasal apa itu berlanjut, tapi pada ujungnya, kata mudah yang terjadi menerangkan bahwa Rival ada dibelakang telinga dengan menentingkan hal baru yang mengigaukan hingga gila ..
[21 12 12 20 45]
Komentar
Posting Komentar