Seperti buku usang diatas meja yang berdebu, yang kini berada di antara gudang dan rumah tua, di antara waktu dan asa, tak sengaja terbuka oleh terpaan angin yang lewat sebagai pembawa berita gembira.
Dari beberapa angin yang lewat, ada satu hembusan dari Sang Pencipta yaitu meniggalkan satu angin yang tertinggal dari kawanan lama, yang setia membaca walaupun sekejap mata terlintas tapi berani mengungkapkan suatu yang tak di kenal sebelumnya.
"Maafkan aku yang telah membaca cerita dalam scenariomu" kata insan angin yang berada dalam kedekatan tapi tak dapat di capai oleh sang buku. Heran dan gugup yang terasa oleh si buku seperti lepas dari ikatan yang menjerat dileher saat merasa ada yang rela setia membaca scenario dalam buku yang tak tersentuh namun hanya terpajang saja oleh majikanya. Bahagia yang tak terelakan oleh si buku saat merasa ada yang mendekati dengan indah gaya tak sempurna.
"Ini ialah teman setia yang tak pernah kudpatkan sebelumnya, walaupun tak mengenal dan tak berjumpa sepanjang kata tapi berani berbagi rasa yang begitu memahami keadaanku yang lemah .." fikir si buku yang melayang dibenaknya. Sedikit hari semakin hari semakin membuat sibuku selalu menginginkan angin selalu ada disampingnya karena buku ingin tertata rapi oleh angin dengan terbangnya debu-debu yang mendekapnya ..
[09 03 11 22 29]
[09 03 11 22 29]
Komentar
Posting Komentar