Jejak Sepanjang Pagi

Jejak kembali berurusan dengan jejak.
Jejak menggapai asa yang memekah meruah dalam tangisan sepanjang tak berujung logat habisnya keengganan yang biasa dikatakan dengan tujuan perjalanan terakhir. Timbul pertanyaan berseru kehampaan yang terus berpacu membawa kesudut lorong tak berkesudahan, dengan utarakan kapan bisa menumpuk kematerian hingga duduk berputar melamun tenggelam dalam tak menggerakan pikiran apa lagi fisik yang berkeletihan.
Ekpresi bimbang didapati tak penuh berkemungkinan yang sama dengan perkiraan yang dahuluan dilawakkanya, agar jejak yang berkesudahan itu memberi warna benderang pada romantisme yang digelarkan para bangsawan dengan maksud melakukan kesesuaian pada tingkat sejajarnya.

Tak mungkin menolak melakukan sesuatu tanpa ada yang disembunyikan, dengan kesanggupan apa yang di idamkan tanpa bisa menerka tercapai atau tidakkah itu semua, tetapi selalu datang sesuatu yang mengorbankan itu untuk sesuatu tak lebih dan tak pantas dimiliki yang dikarenakan melainkan pendadakan kewajiban ataupun nafsu malapetaka tak kunjung padam.
Dalam angan yang diberi nama, kita ditakdirkan mengganti peran sebagai jejak yang selanjutnya, bersyukur pantas dilontarkan dengan maksud dari Pandu yang membawa dan melebarkan jejaknya hingga kita bisa memburu warna jejak yang baru dalam dunia setebal bata.
Walau jejak yang ada selalu ditimpa kembali ditimbal kembali hingga benar-benar nampak kedalaman yang tak berkesudahan itu di sepanjang pagi yang curam dengan suara gemuruh nan basah.

[07 01 13 13 29]

Komentar