Tanya akan Sendiri

Tinjauan renung sendiri, menari dengan kepala yang bergoyang tak terarah dan lagi terjadi masa yang suram saat menanti datang pembeli. Tak ada yang menggerakan tangannya dengan lembaran yang berharga, ditunggu dengan dagu yang congak keatas tersampai munajat tembus keawan dengan teriringi sengatan yang memanas.
 
Saat waktu itu dan di tempat yang sama pun aku teringat sepenggal sejarah, dengan gelap didepan matanya, tinggi yang tak sempurna dan kulit gelap yang merata ia melayangkan perdebatan sendiri dengan angan kosong tak memanjang, Sesuatu itu cukup sendiri apa pun itu kalau ingin terpenuhnya kebutuhanmu, asalkan kamu mampu, lakukan. Liat saja didepanmu yang terdorong itu, belajar lah darinya maka keperluanmu tercapai dengan sendirinya sapaan pelannya menghantarkan keheningan disenja itu dengan tawa kecilku yang merenung.
 
Dengan segalanya sendiri, apa pun itu tak menampik semuanya memang sendiri, lagi dan lagi teraniaya dari sudut yang penuh dengan tujuan berbeda tetapi maksudnya kemungkinan sama, ia memang sendiri dan kenyataannya sendiri, yah lantas ia mampu karena ia pikir ia mampu,  ungkap benakku yang berputar-putar memaknai sudut sapaannya hingga terburai dengan letihnya.

Esok menghampiri, dan memilah lagi dimalam itu dengan dorongan yang dimaksud, apa yang diterkakannya kepadaku? Sungguh dengan pemikiran yang tak berpikir, selintas lewat sebuah penjual dengan gerobak satenya. Aku pun melambainya dengan bermaksud mengisi gong yang nyaring bunyi ini. Dengan sabarnya ia mengipas, aku menunggu dengan liurnya, pandangan yang bergerak rancuh karena ingin segera melahapnya hingga tak bermaksud mata dan akal ini langsung mengiyakan pemikiranku yang dahulu, Liat saja didepanmu yang terdorong itu, belajar lah darinya maka keperluanmu tercapai dengan sendirinya. inikah !?!?!  Sungguh diluar nalar, sendiri yang dimaksud itu apakah penjual ini? Dorongan itu apakah gerobak ini? Dengan sendirinya, langsung saja cetus menerawang benakku bahwa memang penjual ini serba sendiri dari mendorongnya, dari menjualnya, dari membakarnya, dari mengipasnya, dari menyiapkannya, dari menyajikannya, hingga mendapatkan tujuannya, wow .. memang ia serba sendiri dari awal hingga akhir untuk pemenuhan yang di idamkannya, lantas kenapa ia sendiri? Apa karena ia memang sendiri atau aku pun teringat kembali sapaan dahulu Sesuatu itu cukup sendiri apa pun itu kalau ingin terpenuhnya kebutuhanmu, asalkan kamu mampu, lakukan.  Benar, dengan yakin ia tau ia bisa sendiri maka ia lakukan, dan inilah hidup tukang sate terawal yang notabene sendiri yang dimaksud. Haha hebat !!!

Tak sadar dari itupun, penyair sate ini mengejutkanku dengan bawaan yang ku bayangkan hingga duduk bersila dan senyum yang merona merah terjawab keherananku selama ini.
Terimakasih. 
[18 01 13 17 37]

Komentar