Penempa Pribadi





Diidamkan dari perencanaan periode yang digilakan, hingga terbaring menghijaukan kembali pribadi yang diartikan rasa yang siap dijalani dengan yang terpilih oleh semua yang mengiyakan dari sebelah kanan kiri maupun sebaliknya darinya.

Ia yang diberikan dengan pengikhlasan, kini terasa senang diilhami terdalam, bahwa itu semua adalah kedewasaan yang telah melahirkan dunia baru dengan rasa syair sejatinya, yang membawa satukan kisah dengan yang ditakdirkan bersama dari masa yang telah ada.

Dan masa yang telah ada itu mengajarkan sesuatu yang berbeda hingga tak mungkin menanyakan kembali rasa yang mati tetapi yang kini hidup dalam rasa yang padam sebentar dan kembali nyala seperti semula yang mendamping dekat antara bibir dan lidah untuk kebersamaan yang bersua.

Menjawab dari itu semua,

Tak lain memang adalah janur yang tegak berdiri hingga menuai tua, selalu melayangkan angan dengan tujuan bersama, walau pergi bayangnya selalu ada ditemani rasa, dan memiliki sesuatu yang dibolehkan untuk bersama, dengan rasa nafsu yang senja bahwa akan melahirkan teman kecil yang disayangi hingga mengorbankan tulang untuk kecerahannya.

Bersama kita panjatkan, ternyalanya lilin yang dipegang hingga mata menutup dengan sendirinya dalam kisah penempa yang terjadi dalam kehidupan yang dinantikan oleh semua mahluk yang teraliri rasa.

[09 02 13 14 29]

Komentar