Asa Kota Kami




Tenang berhendus sendu, sendu lantunan suara angin terdengar memainkan petikan dawai, bebunyian dawai itu terdengar dari putaran angin yang mengibaskan kekota-kota yang berpelindung rerumputan dan tanah tempat kami merajut asa kehidupan.

Kota yang kami banggakan ini, tempat hidup dan semangat kami. Semangat yang ada membawa kami untuk terus bekerja memenuhi kehidupan yang telah ditakdirkan. Dari itu semua, damai menginggapi kehidupan kami, walau banyak para pembunuh yang siap memangsa.

Lalu kehidupan kami berubah, bukan karena alam bukan karena pemangsa, melainkan semenjak makhluk yang diatas tingkat kami dengan berbadan tegap, tinggi yang tak bisa kami jangkau, mata yang tak melihat lambaian kami, dan telinga yang tak mendengar teriakan kami, ia menginjak menebang menghancurkan segala kehidupan kami, kota yang telah ada sejak leluhur kami ditebas dengan ratanya, tempat tinggal yang kami banggakan tempat tinggal yang kami damaikan tempat tinggal yang kami sembunyikan, semuanya tak terlihat lagi diluput mata ini.

Kami pun hanya bisa berkumpul dengan menangis diam, karena tak kan ada yang mendengar teriakan kami, saat kami semua terdiam, teman-teman kami yang tak berdosa dihilangkan keberadaannya didunia yang kami tangisi ini. Raja dan Ratu yang kami layani, disapu oleh keganasannya.

Kini semua kota kami, tempat kami, teman kami, raja ratu kami, telah hilang olehnya. Kami yang tersisa hanya bisa melanjutkan kehidupan untuk mencari kota-kota yang tersembunyi oleh dedaunan tanah dan pepohonan, walau kami tahu bahwa tempat ini akan lagi dilapanglan untuk membuat kepentingan golongan oleh makhluk yang disebut Manusia.

Wahai penguasa dunia yang diberikan kelebihan oleh-Nya, berikan kami kota kehidupan walau itu hanya sedepak tanganmu ..

[21 04 13 23 33]

Komentar