Bangunan Satu Darah

Kembali dahulu sebelum masa yang tertemu sekarang, kalaulah setiap kepala menyemangati dan berkorban demi kecerahan dengan kata Merdeka. Semua rela begitu relanya dengan yang diterima oleh takdir terencana, mereka mengusir dengan ramahnya walau darah bersimbah bertemu tanah. Lalu mereka begitu menghormati tanah yang dipegangnya, hingga diatas tanah tak rela hilang dikelopak mata.

Dan kembali kemasa yang aku temui ini, telah 67 tahun tanah yang aku duduki ini dengan damainya, semua yang aku lalui sungguh tak adanya jerit tangisan, tak adanya bunyi dentangan timah yang melayang, semua jalan tertata dengan rapinya, kesibukan para kepala tak dapat dijangkau oleh pikiran, lalu semuanya aku pahami itu damai merdeka yang seutuhnya.

Berjalan beberapa langkah tak jauh pembicaraan tadi, damai merdeka itu mulai timbul retakan yang pelan. Retakan itu menjalar kesemua kepala, tetapi itu tak menghancurkan tanah melainkan adanya para kerumunan hitam yang melebarkan retakannya.

Retakan yang dibawah para kerumunan hitam itu mengatasnamakan tanah Bangsa, orang-orang awam yang menderita mulai meninggalkan mereka dan tak lain tanah yang dibawa juga turut dicampakannya. Lalu kerumunan hitam itu ketawa menjadi-jadinya dengan tumpang tindih karena tak ada yang mengikatinya.

Saat ketawa mereka lancarkan, keutuhan tanah ini mulai ditinggalkan, rasa suka yang dahulunya dikorbankan mulai ditolehkan, kecintaan nasionalisme mulai pudar ditutupi langkah yang berdatangan baru oleh tanah tetangga yang memainkan suara dan tariannya.

Kini apa yang salah ..
Semuanya mulai ditinggalkan, sejarah yang tertata rapi mulai dikubur dalam ingatan, rasa tinggi dari raja yang bermula mulai diruntuhkan, cerahnya tanah ini mulai digelapkan, garuda yang melebarkan sayapnya kini mulai dikatupkan, rasa nasionalisme terhadap tanah ini mulai dipudarkan .. 
Apa yang salah apa yang salah?

Mungkin hanya satu untuk mengembalikan semua,
Berulah kembali dengan titik putih, mencintai tanah yang telah mendewasakan keringat ini ..
Karena Bangsa menunggu pembelaan kita walau para sang injakan kaki mulai mengalas tanah ini dengan pembaharuan budaya baru dari negeri nan luar jauh.

Bangsa ..
Bangsa ..
Bangsa, kami menuggumu merajai kembali hati ini dengan bangunan satu darahmu ..

[01 04 03 11 10]

Komentar