Bercak yang Dipuja




Begitu dihormati karena mempunyai bercak, padahal hanya dipinjamkan oleh-Nya. Kenapa menjadi angkuh dan diangkatnya hingga congak, dagu menjadi matanya?

Semua itu karena bercak, bercak yang diberikan dan suatu saat akan dibenamkan oleh kenyataan, Tetapi setiap bercak menginjakan kakinya ntah itu dimana, orang-orang yang memiliki bercak hanya mencukupi dirinya saja, sangat menghormati bercak yang melebihinya. Hingga meninggi-ninggikannya, menceritakan keangkuhannya, begitu menghargai, dipuja dan mendambakan bercak yang melebihinya.

Ia tak memikirkan kebaikan orang-orang disampingnya, yang dipikirkannya jika mendapatkan bercak dari orang yang lebih bercaknya, itu sudah melebihi dari kebaikan. Dan rela begitu relanya demi bercak yang dikejarnya, ia rela melepaskan kelangit dirinya hingga menjadi rendah.

Inilah yang terjadi dalam kehidupan lama, dari dulu hingga sekarang tak berubah kedudukan tanah. Padahal yang begituan hanya menjatuhkan manusia yang diberikan akal oleh-Nya.
Kenapa begitu menjadinya?
Bercak ini hanya datang dan mewarnai tubuh yang dikehendaki-Nya. Tetapi basah yang terakhir sebelum bertemu nisan akan menghapus semua bercak yang melekat padanya, dan itu akan ditinggal didunia yang lara.
Masihkah dihormati dan dipuja yang terbalut putih itu tanpa bercak yang dibawanya? Mungkin atau sama sekali tak kan ..

[16 04 13 15 00]

Komentar