Qee di Tengah Genangan

Pernah tertera pada sebuah cerita di Ruangan Bahtera kuno, yang merupakan dara begitu baik hati, manis segulali gumpalan, seindah pancaran sinar matahari yang menusuk dipagi hari, dan ramah dengan orang lebih untuk mengenalinya.

Semua itu dikarenakan perkenalan tanpa bersapa ramah disuatu rumah dengan kediaman nomor 14, pada waktu itu aku masih ingat kalau wanita asing yang pernah melihatku memakai penutup tubuh berwarna kesukaan wanita, adalah ia. Sangat disayangkan, kami hanya berjumpa dengan suaan antara penglihatan dengan penginderaan mata.

Dari sanalah kisah kecerahan saudara kami dimulai, dari beberapa lama jarang sekali kami bersua kembali kecuali pada tempat keempat ini yang membuatku punya tajuk untuk menulis kegilaan ini. Tempat keempat ini, nantinya akan diterangkan.

Permulaan jumpa kedua hanya sekedar perjumpaan kembali dirumah yang sama tempat kami menemukan mata untuk saling menyapa. Dilanjutkan ketiga, dengan suatu kondisi yang mana ia bertemu dengan hari ia diturunkan kebumi, dan pada waktu itu pun bertepatan bulan berkah penuh ampunan. Aku pun turut bahagia dihari cerahnya.

Lalu yang keempat, aku lebih-lebih bisa mengenal ia lebih dekat, dikarenakan hanya berjarak sepenggal telapak tangan kami bercerita keanehan yang pernah diderita selama keruh kehidupan. Disuatu tempat yang dikelilingi oleh genangan yang memenuhi dunia ini, dengan tinggi ditengahnya yang ditemani oleh pasir putih, air yang membiru oleh kegaraman, dan angin penggelap sawo, pulau R yang kami teriakan ketika sampai.

Aku baru pertamanya untuk lebih mendekati ia akan saling menyapa, bersuara dan lensa nyata antara keduanya walau kami sering ramah didunia genggaman tempat komunikasi modern berada.

Singkat pada keadaan sejauh sepenggal telapak tangan, kami bersama dimalam yang membawaku santai dengan ditemani ombak yang memainkan suara riuhnya, pasir putih yang mengizinkan kami untuk menginjaknya, dan sinar rembulan bagaikan cahaya malaikat yang turun ditengah perairan yang begitu terangnya. Dengan ditemani alam yang begitu terbangunnya, kami bercerita dari belahan utara membelok kebarat hingga tak ketemu ujungnya kecuali sela jam memainkan tengahnya untuk memberhentikan kami bercerita dikarenakan badan meminta tugasnya diluruskan.

Ketika lurus berjumpa pasir dibawah, tempat aku meletakan lelah. Ia pun dengan inginnya tetap berada seperti yang aku alami dengan beralasan pasir dan berselimutan bintang-bintang yang memancarkan keindahan seni taman langit hingga mata tertutup dengan sendirinya.

Besok menghampiri dengan cerahnya ketika setengah benderang matahari membangunkanku, aku pun langsung membangunkan ia untuk melihat keindahan alam yang tak pernah kami jumpai saat terbitnya ditengah lautan ini.

Pagi yang masih terjungal itu, menawarkan kedekatan begitu eratnya joran yang kami lemparkan, dan keindahan alam yang begit mempesona dengan lensa potret yang menyuguhkan wajahnya terekam dengan tekanan pelanku.

Akhirnya dengan bersama pagi, aku menemui siang yang menyengat itu menghantarkan pulang kepintu yang menunggu kami akan kesibukan masing-masing.

Suatu saat ramah saudara kita masih berlanjut disuatu tempat yang terencana oleh-Nya tetapi belum diketahui oleh kita dengan kedekatan yang sebenarnya terjadi diingatan, separuh kebahagian tertuang dalam tajuk kenyataan.
[28 04 13 12 13]

Komentar