Setiap keinginan perjalanan membentuk bahtera
kuno, lalu dibentuk memiliki ruang yang ingin dimasuki setiap kehendak dan
keyakinan diri. Tetapi abjad ruangan berpadu padan dengan pengakuan diri. Aku
pun bertanya pada nahkoda bahtera, yang berdiri memandang perjalanan kelaut
lepas. Maaf, boleh saya bertanya? Aku melontarkan pertanyaan. Ia hanya menjawab
diam dengan anggukan pelan. Aku menanyakan, Bukankah ini sesuatu yang kuno
telah lama ada, kenapa harus memasukinya perlu pertanyaan rasa pengakuan beberapa?
Ia pun tak menjawab, dan ketika kediaman itu beras gelap, aku menoleh pada
ruangan-ruangan yang ingin kumasuki, semuanya pada terbuka setengah.
Aku kembali menolehkan kepala ini pada nahkoda tadi, apakah itu semua telah terisi penuh dengan orang-orang yang mendatanginya? Aku bertanya lagi. Ia hanya menjawab, semuanya kosong. Lalu aku meneruskan pertanyaan, kenapa jadi terbuka setengah, bukannya kunci dengan anda semua? Ia meneruskan jawabannya, silahkan saja dicek, ntar juga mengetahui.Ketika aku terengah dengan begituan, aku mendekati ruangan pertama.
Pintu ini bertulisan huruf R tertimpa Mey. Saat aku mendorongnya,
ruangan ini berisikan kursi untuk
kesetiaan pada yang menunggu walau didera kehitaman yang pahit, dan
dipojok kanan ruangan ini ada sebuah lampu yang menunggu untuk dihidupkan, saat
aku mencoba menghidupkannya, lampu ini begitu memancarkan terang kebebasan yang
mensenikan. Aku pun membiarkan pintu ini tetap seperti semula. Aku pun
melanjutkan pada ruangan kedua,
Pintu ruangan ini bertulisan P terusang Pinot. Saat aku melihat
kedalamnya, sungguh menawarkan ketenangan untuk orang baru-baru, kerinduan dan
kejauhan. Lalu ketika aku melihat setiap sisi ruangan ini, begitu usang yang
menjadi-menjadinya, seperti tak pernah diurus beberapa lamanya. Aku pun
menutupinya sedikit rapat, dan melanjutkan keruangan selanjutnya.
Pintu ruangan ini bertulisan A tertera Pipin. Aku pun memasukinya,
sungguh ruangan ini menghadirkan kerapian yang tertata, setiap kerapian itu
dihiasi lukisan tangan kiri dikarenakan pernah tertera dengan genggaman yang
dibekaskan. Tapi sungguh malangnya, ruangan ini mempunyai ruangan kecil yang
tak merahasiakan keinginannya untuk menerima yang lainnya. Aku pun kembali
keluar dan merapatkan sisi pintunya untuk tak terlihat dari luar. Aku
melanjutkan keruangan selanjutnya.
Pintu ruangan yang aku temui selanjutnya
bertulisan V2 terjauh. Aku
memasukinya, sungguh begitu jauh setiap sudut dan langit-langitnya untuk dijangkau,
ruangan ini begitu menghadirkan keramahan yang malang, dan sungguh dibedakan
oleh sesuatu yang telah dibawa sejak lahir oleh Pandu yang menggendong. Aku pun
menipiskan senyum ketika meninggalkan pintu ini tetap terbuka setengah, aku
melanjutkan keruangan berikutnya.
Pintu ruangan bertulisan D mengenal 14, ruangan yang selanjutnya aku temui. Ruangan yang
begitu merona cerah, begitu banyak lukisan ibu dan anak yang saling berbahagia,
ketenangan ruangan ini ramah santunnya mengajar untuk menenangkan jiwa. Aku pun
membiarkan pintu ini seperti sedia kala, dan meninggalkan ruangan ini untuk
menanda.
Lanjut dari ruangan berikutnya, pintu yang
kutemukan ini bertulisan Posa terhinggap
Basah. Ruangan ini menghadirkan keriangan yang membangga, semuanya membuat diri
serasa dimanja, dingin dengan suasana yang disuguhkan, hati dingin selembut
sutra, sungguh ruangan yang kecil tetapi begitu menyenangkan keberadaan disana
walau sebentar dirasa. Aku pun meninggalkan ruangan ini dan menoleh hingga
berbicara diam, kalaulah ruangan ini kelak kutempati.
Setelah meninggalkan ruangan sebelumnya, aku
menemukan pintu selanjutnya yang bertulisan Sekolam
ayt. Ruangan ini membuatku senang, ia begitu mempesona dengan hiasan
ruangan yang menemani keadaan akan warna merah muda disekililing ruangan ini. Setiap
sisinya tak membuat kejenuhan yang memudar. Aku pun membiarkan ruangan ini seperti
biasanya walau ada benda-benda yang tak sengaja aku pegangi, aku lalu
membiarkan pintu ini seperti yang kutemui pertama kalinya.
Dan setelah beberapa ruangan yang ku masuki
tadi, aku pun pergi meninggalkan beberapa ruangan didepan dengan kabut yang menutupi
setiap jalan menuju ruangan yang belum aku singgah untuk ditempati. Aku
melemaskan pikiran dialun-alun bahtera ini dengan memandang kelaut lepas tanpa
tau apa yang aku temui diperjalanan selanjutnya. Saat aku dengan santainya
memanjakan diri, aku tersentak .. karena nahkoda bahtera ini disampingku.
Dengan keterkejutanku, aku lalu menanyakan
kembali pada nahkoda bahtera ini, kenapa pintu-pintu ruangan bahtera ini tak
terkunci? Ia hanya menjawab, kalaulah aku telah memasuki semua ruangan ini
dalam mimpi yang lama, lebih dalamnya liat saja kalung yang kau kenakan bahwa
matanya terbuat dari kunci semua kamar ini.
Aku terdiam, dan nahkoda itu meninggalkanku
dengan melanjutkan perjalanan bahtera ini. Ketika ia pergi beberapa langkah,
aku pun melanjutkan diri kekabut yang menutupi ruangan yang belum aku temui
tadi, tetapi ketika aku melangkah kekabut sana, terdengar teriakan ruangan sebelah kanan, aku melihat setiap pintunya tertera Dasar Jan, Malunya Hinata, Cimung kenegara lain, Barbie yang Publi, & Po yang sendiri, aku pun tersenyum pelan hingga memasukinya dengan cara nostalgia pelan.
Setelah bersela, aku membenamkan diri lalu pergi keruangan selanjutnya dengan mengikuti perjalananku ..
[20 04 13 18 07]


Keren gan, makasih buat artikelnya.
BalasHapusSalam sukses selalu...
ok thank's y
BalasHapus