Tertambat disuatu sungai yang tak mengalir,
airnya tak mengajarkan arus yang didiaminya. Lalu dari kejauhan sang pinggiran
memulai dengan rancuh, apa yang digelarkan dimuntahkan dengan terbuang oleh
aliran diam.
Bersuara pelan menghantarkan kediaman yang
bermula sengit, hingga tak berkutik karena ketakutan yang membekas lara. Kemana
harus dijangkau jikalau tak ada yang menarik empati kehati ini.
Masih tertambat dialiran diam, menggerakan
hati ini sungguh tak tau harus kemana, ingin menelusuri kejauhan itu tetapi
kabut terlalu menutupi genangan disana. Ingin mencoba kesana tetapi arah kian
menelani kehendak ini.
Lalu lebih baik tertambat disini, menunggu
bunyi kerling yang memainkan sketsanya untuk yang dituju arah gerangannya
karena itu arah nan harus dicoba dari pinggiran yang tak mengetahui dibalik
punggungnya.
Siapakah gerangan yang menunjuk kearah sana? Aku
membuntutinya.
[13 04 13 12 41]
Komentar
Posting Komentar