Menguak mimpi benderang ketika datang
membasahi kaca jendela dengan bayangan menjadi samar-samar oleh bungkahan
dimalam gelap pekat kadang bercahaya.
Saat melihat itu dari kejauhan, aku mendekat
hingga terlihat diluar kaca bahwa kabut begitu dalamnya, membuat rasa mengejar
diri dengan teriakan sambil memecah kesunyian, mematangkan sesuatu hingga
membenamkan diri dengan sengajanya.
Tanpa sepatah katapun, desakan yang bersuara
kini diabaikan, teriang nyaring sebelumnya seperti kumpulan tawon lenyap tak
berbekas hingga terkatup rapat dirumah ini.
Tetapi dibalik jendela terlihat setitik
terang dalam kegelapan, yang menjadikan benak berkecamuk akan guyuran hujan
dalam kusaman tenggelam oleh lamunan kabut.
Saat tersadar dari lamunan, pikiran sudah
terangkat mendukung langkah hingga meluap dan berbaur menjadi lorong yang gelap
pada setitik harapan benderang ketika diri sudah keluar dari tempat ini sambil memegang payung menadah gelap.
Dalam lorong yang gelap nan jauh didunia ini, semua upaya
dirasakan gagal, tetapi kepercayaan memungkinkan sekecil apapun yang masih ada,
itu akan dikejar dengan nyatanya pada setitik bungkahan menjelang timbulnya mentari yang
mungkin didapat kecerahan ketika perasaan menunggu pagi yang enggan dan jenuh untuk kembali.
[11 05 13 11 46]

Komentar
Posting Komentar