Telaga Melayang


Bungkahan yang melebar saat datang memasuki kehendak diri lalu membangunkan dengan sendirinya. Saat terbangun, aku berada diantara telaga tertutup awan yang melayang tanpa bayang disela-sela mata memandang.

Saat tersadar, telaga itu memainkan waktu yang tersudut sepi antara terburai dan sempurna. Akan keadaan demikian, aku ingin melihat kedalam telaga itu dengan memainkan berani, tak lama berselang aku berada disana dengan keadaan bergetar dan terasa sakit hingga lemah setiap menginjakan tapak demi tapak seperti tancapan ribuan pecahan kaca ditubuh ini.

Saat ingin melihatnya, teriakan yang mendesing didalam telaga itu seakan rumah siput ditelinga ini pecah tak berbentuk. Mata yang ingin melihat ditarik keluar oleh telinga yang dari kejauhan bisa didengarnya kengerian fatal bernada sinis, menampik untuk melihat sesuatu dari sana hingga terseret menjauh dari telaga tersebut.

Aku pun semakin menjauh dari itu, hingga menghela nafas bersamaan air mata yang berkeluaran dengan sendirinya menandakan ketakutan yang menjadi.

Getaran yang ada tadi, tak berhenti hingga fajar datang menjemput kembali menerangkan lagi wajah ini. Aku pun bangkit dengan perasaan penyesalan yang terjadi dikehidupan lama dengan terburai oleh bungkahan rasa yang  nyata.

Lalu telaga apa yang aku lihat?

Begitu banyaknya pancaran panas yang terasa dihati. Apakah ini sekumpulan butiran ketakutan yang aku lamunkan dalam getaran waktu dengan nama lain, debunya akhirat?
Semua hanya bisa menjawab ketika terilhami oleh-Nya,
Astaghfirullah ..



[17 05 13 22 46]

Komentar