Tak ada yang menyenangkan ketika cerah
pengakuanmu menikam perasaannya. Tetapi yang diharapkan mala tak sepatutnya
diterpa. Bahagia duka bahagia duka bahagia duka bahagia duka, senyum di balik
derita.
Dimana berada ketika senja memakan
perasaaanmu? Apa yang harus diterka, jika tak adanya empati menarik diri?
Haruskah mendiami rasa tanpa sepatah kata pun terlontar dari suara pelannya?
Aku akan berhenti memaknai hati ketika itu
tiba dan menunggunya dalam waktu yang siap aku layangkan kapan akan berhenti,
karena itu semua sulit dijangkau dengan bulan yang selalu malam disudut hati
jika tak adanya kepastian pagi yang menjemput cerah di wajah.
Saat pagi mendatangimu tanpa beban yang ia pegang, maka namamu akan ada diantara para peri yang merajut asa. Tetapi, ketika malam selalu menutupi kemalanganmu, maka tak terlihat namamu diserambi asa sekalipun.
Saat pagi mendatangimu tanpa beban yang ia pegang, maka namamu akan ada diantara para peri yang merajut asa. Tetapi, ketika malam selalu menutupi kemalanganmu, maka tak terlihat namamu diserambi asa sekalipun.
Yang terjadi dalam kehidupan ini, selalu
berkesinambungan dengan angan. Keinginan selalu merajai hati ini untuk merajut
asa diantara arah. Bahagia yang diterima karena didekatnya, saat duka menerpa,
ia di belakang rasa.
Haruskah dikejar? Jika meyakini itu akan
mendekapnya, kejarlah namanya. Tetapi ketika ia tak tarik ulur rasa, sebaiknya
menentukan arah yang lain pada nama semestinya.
Sebagaimana mestinya para penyair asa dahulu, ia selalu mengukir namanya sebelum berlayar dengan bahtera untuk mencari asa yang berbentuk harta yang dinamakan cinta. Cobalah ..
Lalu saat mencobanya, mungkin suatu saat
setelah namamu terukir dengan saksama, ia mengikuti bayanganmu. Tetapi tak
menutupi kemungkinan dirimu akan menarik diri kebayangan lainnya.
Ada atau tidaknya, kamu telah mencoba. Suatu
saat nama itu akan tertera dengan pasti, siapakah? Layangkan lah lamunan itu
dengan doa.
[09 07 13 18 03]

Komentar
Posting Komentar