Air di dalam sebuah genangan yang hening,
disuatu tempat yang tak tersentuh oleh kehitaman, burung-burung nan bebas
selalu hinggap digenangan ini untuk mengisi kehausan, rerumputan yang
mengelilingi genangan ini terlihat
begitu rapinya seperti pagar yang kokoh,
awan yang terlihat diatas sana memainkan teduhnya, pancaran sinar
matahari tak terlalu menyilaukan dengan teriknya.
Saat awan kelabu mulai menarik hati ketempat
tak tersentuh ini, mulailah kodok yang terpojok malas ditepi genangan terbangun
dengan cepatnya, lalu mulai memainkan suara ritual pertanda hujan kian
membasahkan dengan pelannya, tak lama berselang jentik jemari awan mulai
memainkan pola basah untuk yang terlewatkan.
Genangan yang hanya mendengar suara riuh
hujan mulai memainkan cerahnya, ia ketawa kegirangan ketika teman barunya
datang dari atas sana. Lalu langsung diterima tanpa ada perbedaan dari mana ia
berasal, tetapi yang diutarakan hanyalah kesenangan akan kebaruan.
Tak lama berselang, genangan menarik empati
ketanah sepi. Disana ia meresap ketanah-tanah sepi nan tandus yang butuh akibat
kekeringan, walau genangan tak tahu kehidupannya akan terangkat kembali menjadi
uap-uap dikala pagi menyala, tetapi ia rela berbagi kehidupan dengan sesuatu
yang beda.
Putaran alam yang terbangun itu sungguh
mencakup dan berbagi rasa disekitarnya akan indah kebersamaan yang beda dalam
genangan kehidupan masa.
[04 07 13 01 57]

Komentar
Posting Komentar