Keteguhan Rasa

Satu pegangan ketika berjalan melintasi keruhnya kegelapan yang menutupi arah kehidupan, lakukan dengan keteguhan hati pada yang dipercaya untuk melanjutkan langkah yang terus kian memudarkan rasa.

Lewati beberapa sela, asa yang diartikan rasa itu hanya datang ketika hati ini tersentak melihat ia memainkan simponi tingkahnya, paras yang menawan serta keramahan nan manja.

Saat ia sungguh menawan, senyuman yang ia suguhkan seperti bahtera yang selalu berlayar diingatan. Pandangannya seperti bayangan semu diantara banyak kerumunan hingga perasaan ini tersentak kehati dan ketika itu pun ia menjawab dengan memainkan tarik ulur rasa yang ia simpan hingga membaginya menjadi janji.

Lalu semua itu pudar ketika adanya bayangan manja menari didepan lensa mata. Senyum bahtera yang ada terganti oleh tarian rasa.

Bersamaan dengan itu pula, janji pun memudar dengan perlahan hingga menutupi kehendak sebelumnya. Rasa nyata, paras serta kelebihannya menjawab untuk mendekap bayangan yang datang ini.

Saat itu ternyala benar, asa hati ini mulai menutupi cerah bayangan itu hingga tak terlihat semana mestinya. Lalu kehitaman mulai terlihat didepan sana, saat memudarkan yang lama dan mulai mendekap arah bayangan yang tertutup asa ini.

Dan saat bayangan tak terlihat, asa mulai menghadirkan lilin diantara kegelapan sana. Saat keheranan mulai melangkah, asa hati ini berbicara pelan dengan mengartikan pertanyaanku. Lilin yang terlihat itu adalah keteguhan hati yang dipegang olehmu, lilin itu selalu memutari kehidupanmu. Lilin itu rela mati dengan sendirinya untuk janji yang diemban, seperti seseorang yang sedang menyalakan lilin, ketika ia hidup ia akan tetap menyala, ia telah berjanji untuk tetap menemani yang menyalakannya dalam kegelapan walau tanpa berjanji tetapi kebutuhanlah yang menjawab janji yang diembannya hingga mati dengan sendirinya.
Saat asa mengartikan yang ia bicarakan, aku pun tersentak diam. Keteguhan yang dijanjikan sebelumnya, terbuai oleh manjanya dunia yang merayu rasa.

Dan hati gila kecil ini menemani asa dengan seperti seharusnya terhadap yang telah lama ada, dengan menjadikan hati seperti lilin, walau tak berjanji tetapi cara pandang, pengakuan diam serta kebutuhan dan saat bersamanya akan menjawab kalaulah ia membutuhkan kesetiaan.

Lalu setia itu sangat memerlukan keteguhan rasa, seperti kebanyakan orang hanya bisa senyum didepan pasangannya tetapi ketika dibelakang ia membunuh janjinya, keteguhan hatilah yang bisa melihat perjalanan dibelakang mata.

[17 06 13 17 23]

Komentar