Saat bersama dia, seperti memainkan simponi
alam yang diam, tanpa harus berkata, tanpa harus menyentuh, tanpa harus
dilantunkan, tetapi terdengar alunan nada-nada indah yang menggema di hati.
Saat itu ternyala diam, yang ada dirasa
hanyalah menjaga keteguhan rasa ini pada yang setiap hari berbagi basah kala
menemui panas yang menyengat disiang hari ataupun dingin menusuk
ketulang-tulang kala malam menyelimuti.
Aku ingin mengatakan dekapan nyata itu, saat
datang hari yang diizinkan-Nya, karena tanpa munajat yang dipanjatkan dan
permohonan arah untuk mendekapnya, itu akan menjadi nafsu dan begitu sungguh,
aku tak menginginkan terulang kembali kesalahan lama yang sudah diilhami oleh
kehitaman tak bermaksud yang terjadi.
Permohonan itu tak kan lengkap, tanpa
selembar samar tentangnya bahwa aku pernah sebelum menemui perasaan ini di kala
dahulu terbangun sebuah mimpi, ingin mendekap Hawa yang penuh cerah, dengan
mata berbentuk tipisnya kertas di negara tembok besar sana, dan pastinya ia
seorang yang memiliki keyakinan damai sama denganku.
Lalu mengenai rasa, cukup bisa menghargai apa
yang ada dan menyayangi hingga mendekapku seperti yang aku goreskan kanvas ini
lalu melukisnya menjadi Hawa mendekati sempurna.
Saat semua ternyala benar dan nyatanya,
pertimbangan yang ada akan ku terangkan nantinya, agar mengetahui kalaulah aku
akan memulai cerah ini dengan sesuatu yang diam dari dirinya.

Komentar
Posting Komentar