Menyentuh Diammu

Saat bersama dia, seperti memainkan simponi alam yang diam, tanpa harus berkata, tanpa harus menyentuh, tanpa harus dilantunkan, tetapi terdengar alunan nada-nada indah yang menggema di hati.
 
Saat itu ternyala diam, yang ada dirasa hanyalah menjaga keteguhan rasa ini pada yang setiap hari berbagi basah kala menemui panas yang menyengat disiang hari ataupun dingin menusuk ketulang-tulang kala malam menyelimuti.


Aku ingin mengatakan dekapan nyata itu, saat datang hari yang diizinkan-Nya, karena tanpa munajat yang dipanjatkan dan permohonan arah untuk mendekapnya, itu akan menjadi nafsu dan begitu sungguh, aku tak menginginkan terulang kembali kesalahan lama yang sudah diilhami oleh kehitaman tak bermaksud yang terjadi.


Permohonan itu tak kan lengkap, tanpa selembar samar tentangnya bahwa aku pernah sebelum menemui perasaan ini di kala dahulu terbangun sebuah mimpi, ingin mendekap Hawa yang penuh cerah, dengan mata berbentuk tipisnya kertas di negara tembok besar sana, dan pastinya ia seorang yang memiliki keyakinan damai sama denganku.


Lalu mengenai rasa, cukup bisa menghargai apa yang ada dan menyayangi hingga mendekapku seperti yang aku goreskan kanvas ini lalu melukisnya menjadi Hawa mendekati sempurna.


Saat semua ternyala benar dan nyatanya, pertimbangan yang ada akan ku terangkan nantinya, agar mengetahui kalaulah aku akan memulai cerah ini dengan sesuatu yang diam dari dirinya.


Semoga engkau mengetahuinya ..

[14 07 13 13 49]

Komentar