Langkah yang telah pergi ketika melihat aku memainkan bisik diantara kerumunan terang. Gerah yang terpancar dari raut wajahnya, membiaskan untuk terengah apa yang mereka lakukan. Dengan segala keterbatasan, mereka melepaskan cara untuk menunjukan berbagai caranya agar aku berhenti mendekap sebuah jawaban yang dilayangkan.
Larut yang semakin jadi, menghantarkan beberapa angan yang tertemu pada titik pudar. Terbenam dari sebuah pengakuan akan kenyataan. Lalu terbit kembali menyambung asa pada yang dipilah dalam segala kesanggupan. Semua telah terpancar hingga mimik yang tak seharusnya memegang peran pun dibenamkan, dengan teriakan matanya mengatakan kalaulah yang engkau pilah bukan sebagaimana aku harapkan. Hingga membagi segala pendapat yang terilhaminya dari suara lain beberapa pihak yang memainkan peran.
Apa yang harus diungkapkan jika mereka selalu memainkan perannya dikhalayak ramai? Terilhami dari yang tak seharusnya dipegangi karena mereka hanyalah pengutara di masa sebelumnya atas permintaan pendapat dari angan yang tak bisa dijawab dengan tersendiri.
Semua yang telah terjadi seperti melihat sebuah kertas yang terkuaskan oleh penyair warna, setelah itu terbentuk dengan segala keterbatasannya sebuah lukisan dengan keunikan yang hanya diketahui oleh penyair warna tersebut. Tetapi banyak para kerumunan lain yang hanya bisa memandang sinis lalu berbicara serba kata tanpa memikirkan kerendahan diri. Mereka selalu bersuara, selalu menari, selalu terengah, selalu membuka semua yang dilayangkan atas nada-nada aneh dan mereka hanya bisa berkata tanpa memberikan jawaban nyata.
Lalu apa harus diam dengan semua yang telah terjadi dan membuat diri ini begitu terasingkan dunia yang mereka pancarkan dari mimik hingga suara pelannya?
Tidak, walau terbebani dengan begitu jauhnya tetapi diri ini memulai gemuruh perasaan untuk mengindahkan jawaban dari yang telah terlewatkan, apapun yang terjadi biarkan mereka besuara, apapun yang terjadi biarkan mereka menari, apapun yang terjadi biarkan mereka menarik simpati, apapun yang terjadi biarkan mereka menjawab apa yang tak akan terjawab, apapun yang terjadi biarkan mereka menemui jalan jenuh hingga lelahnya menghentikan nafas yang memenuhi cerita diri ini.
Karena manisnya mereka seperti bagaimana mestinya, dengan menerangkan itu lalu menyusun kembali situasi yang ada akan dua pemikiran secara bersamaan hingga menemui titik temu dan mendekati kebenaran, lalu menarik kesimpulan secara mundur dari wajah kedua mereka yang begitu tersenyum palsu.
[26 08 13 01 52]
Komentar
Posting Komentar