Memilah Keutuhan

Ini nyata dalam dekapan, ini cerita dan keinginan, hingga mendekat dan terbentuklah sebuah keutuhan.

Saat melamunkan sesuatu yang lama, hingga ingin menjemput yang telah ada tetapi selalu terbendung oleh hitam tak bermaksud yang menyelubung di pundak para puri pelukis bangsawan.

Kenapa semakin menjadinya? Hingga tak di dapat sebuah keutuhan yang meramaikan sapaan dalam, ketika bertemu di kota udara.

Saat angin pelan menyenggol sayapku, aku terpisah dan menjauh hingga memudar tertutup layangan pelan. Lalu aku terhenti pada sebuah gubuk, di antara lukisan-lukisan ibu dan anak yang terlampar hingga memenuhi dan mengindahkan perasaaan, ketika aku terdiam tanpa angin yang membawa lari.

Aku berdiri tegak dengan keheranan menjadi, arah angin ini menambatkanku disini dengan kerapuhan yang tertutup. Lalu mata ku langsung tertuju pada usang yang dikelilingi oleh lukisan-lukisan yang sama tetapi bertema beda dengan ibu dan anak yang saling mengendong. Saat perasaan semakin heran, aku memberanikan diri melangkah kearah yang usang itu.

Aku secara pasti melangkah pelan dengan sesuatu yang diam hingga didapati pintu yang usang di gubuk ini. Lalu saat aku dengan beraninya membuka sesuatu yang usang ini, sebentar terasa hembusan hawa dingin yang menyejukan rasa dari dalamnya, saat membuka mata melihat kearah dinding itu begitu menghadirkan ketenangan gubuk ini ramah santunnya mengajar untuk menenangkan jiwa. Aku ketawa cerah saat mengetahui kalau gubuk ini begitu terang kehidupan dalamnya.

Lewati beberap sela waktu yang terjadi, aku mendiami ini dengan sesuatu yang masih heran karena semakin lama aku mendiami ini, dinding yang tadinya rapuh mulai terbentuk keras, dari yang tak sama hingga membentuk seirama, yang tak terlihat hingga membentuk kejelasan. Sungguh menenangkan, sungguh melegakan saat mendiami tanpa sekata-patah pun dari dendangan alam.

Tetapi aku tersadar, aku mendiami ini tanpa mengetahui siapa pemiliknya, yang pasti aku terangkan gubuk ini menjadi puri yang mungkin didapati dengan waktu yang terlangkah kedepan di antara kabut yang begitu menyelimuti.

Saat beberapa lama disini, kabut mulai menjadinya, tetapi perasaan tertenangkan oleh beberapa kecerahan mentari di upuk timur hingga yang terjadi mulai diilhami, yang telah terdengar mulai disahuti, yang terlampar mulai dipunguti, karena gubuk ini melepaskan usang yang terdiami.

Ketika semua mulai diperjelaskan, aku hanya bersapa pelan memulai dengan diam, dengan panjatkan semoga tak ada memiliki oleh beban terdalam yang tertera oleh keutuhan.


[26 07 13 18 54]

Komentar