Dengarlah suara yang terbangun disana, begitu
hening nan damai. Tak terlihat dimata yang bukan seharusnya, hanya bisa melihat
ketika menyelami lebih dalam. Sepintas terasa seperti surga yang mengalir deras
dipangkuanmu, damai begitu terpelihara walau ada pemangsa yang tarik-menarik lidah
karena putaran alam yang sudah lama ada untuk bertahan hidup.
Suatu tempat yang sukar ditemukan kecuali
dengan bantuan. Disana begitu terbangunnya, tumbuhan yang saling menari ketika
disenggol aliran dalam, tumbuhan akan lebih menarik empati ketika yang bernafas
dengan insang itu mengusap-usap sisiknya yang manja pada helaian yang saling
mengisi kebersamaan.
Seperti kelihatan taman surga dibawah sana,
warna-warninya yang terpancar itu mengiyakan untuk tinggal disana lebih lama.
Tumbuh dari yang lembut hingga menjadi keras karang-karang yang terpelihara
oleh butiran asin. Dari yang lembut di jaga oleh para pendayung insang untuk
menarik diri agar karang-karang yang baru menampakan diri itu tak dihiraukan
oleh pemangsa, lalu ketika lembut menjamu keras, giliran dia sebaliknya menjaga
dari pemangsa lainnya yang disebut rumah para pendayung insang untuk bersembunyi.
Semakin dalamnya aku menelusuri, kota-kota
dibawah sana mengibaskan ketentraman begitu menjadi, semakin banyak kehidupan
yang berputar rancuh tak terlihat dimata kecil ini, semuanya terlihat beda dari
ukuran, bentuk, warna, hingga kenyataannya.
Tak ada maksud yang merugikan dari kehidupan
disana, tak ada kepentingan sendiri yang terbangun disana, tak ada kesendirian
yang tertanam disana, tak ada kediaman yang terpelihara disana.
Kenapa bisa setentram ini? Kenapa bisa
sedamai ini? Apa kami juga bisa seperti ini di kota Udara?
Lihat saja mereka, begitu beda, tetapi tak
adanya balas dendam yang terpelihara ketika sebangsa sendiri dimangsa, yang ada
mala ketika perut mereka penuh maka kehidupan pemangsa dan dimangsa akan damai,
dia menari bersama dialiran berombak itu seperti melupakan yang barusan terjadi
akibat putaran alam oleh-Nya.
Aku termenung diam, hingga terasa dada ini
menarik diri untuk mengisi kekosongan.
Ketika aku menelusuri keatas untuk mengisi
paru-paru yang kurang persedian, aku pun diam melihat pergerakan kota udara
yang melayang diantara para awan-awan hingga merenung di sudut hamparan langit
dengan terombang-ambing dalam ombak. Aku terpelihara nangis, melihat
sebangsaku sederajatku saling memangsa tahta, martabat, agama, ego yang
terpelihara dan lain-lainya yang tak tahu untuk apa itu semua kecuali kepuasaan
yang mendampingi ambisi merah.
Saat perasaan itu semakin menjadinya, sapaan
pelan angin yang menyenggol alisku menghantarkan munajat diamku ..
“Aku ingin
hidup damai seperti mereka, mengisi kebersamaan di dunia ini walau kita semua
kelihatan berbeda. Aku ingin hidup damai seperti mereka, berembuklah agar damai
terpelihara ..”
[15 07 13 14 11]
Komentar
Posting Komentar