Kereta Malam


Dikala matahari datang menyingsing dengan saksama, lalu bertemu siang hingga menemukan senja sore yang menggambang, semuanya bergerak sebagaimana mestinya tertera dari pangkuan alam. Tetapi, di balik pohon cadar yang tinggi menjulang itu, di sana ada yang berteduh dengan ramah, dia tak bergerak seperti seharusnya saat fajar menyingsing.

Dia hanya bergerak saat yang gelap mulai menghiasi kiasan malam. Dia bergerak dengan bebunyian yang menggugah rasa kala sang nafsu menarik dengan kesunyian di balik dada. Ibarat seperti kupu-kupu indah yang bertebangan dan hinggap tempat ia meletakan rela. Begitu banyak yang menyukainya menaikinya hingga ketawa merah dengan keringat dan darah mengalir tanpa batasan, kecuali keletihan menahan itu.

Lalu semua tergugah, kehidupan malam mulai menjadi tak terbeban oleh kepenatan, semuanya dengan saling menyukai dan mengindahkan perasaan saat itu semua menyatu dalam asa di malam yang memutar waktu oleh beberapa putaran hingga batasannya menjelang subuh. Dengan goyangan, tarikan hingga suara sungguh amat menyuguhkan rasa surga. Tetapi

Tetapi dipinggir jalanan saat dia berjalan, dengan tertutup keyakinan yang begitu terbendung, kereta itu dicaci-maki secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi lalu bercerita pada kawanan, hingga kiasan benci menyelimuti seluruh kereta itu oleh pinggiran. Begitu amat dalam benci yang tertera dipangkuan itu, hingga yang ada menyiksanya tanpa pamrih dan begitu amat diasingkan oleh kehidupan.

Kereta itu tetap berjalan, dia menangis dalam kesenangan. Yang dia tahu dia tetaplah dia, sebuah kereta, salah satu kiasan yang diciptakan Tuhan untuk mencari lembaran berharga didunia ini. Walau kelihatan bahagia, tetapi dibalik itu tersimpan tangisan yang begitu terbangun diam. 


[02 09 13 17 20]

Komentar