Malam yang Basah

Hari ini hujan datang membasahi dengan lebat dimalam yang serba pekat. Teriakan dari suara-suara alam begitu memainkan kehangatan pangkuan yang terlintas di benak para penghuni sepi.

Saat semua begitu terbangunnya, ada yang teresapi hingga membagi waktu bersama dikala lebatnya itu mengguyur dengan ramah, butiran air yang jernih menemani dengan tindihan saat kaki ini malas beranjak masuk dikeramaian yang menggema pada rumah dengan warna putih yang memudar.


Rintihan pelan suara yang terdengar, begitu menerangkan kemalangan yang sungguh. Saat basah mengalir deras di tubuh ini tempat aku menerima curahan air jernih dilangit nan tinggi disuatu halaman berbentuk taman disamping putih yang memudar ini. Teriang nyaring suara telanjang dari kejauhan yang begitu mengibaskan ketentraman saat berdiri disini.


Aku mencari asal suara yang terdengar itu, hingga memilahnya dengan keheranan. Saat aku melangkah hingga menjauh dari tempat bermula, perasaan yang menjadi heran mulai bertambah seiring lebatnya hujan kian bertambah deras.


Lalu aku terus menelusuri asal-asul dari suara yang terus memainkan santunnya, hingga menemui diantara tembok besar yang mengapit jalan, aku menelusuri itu dengan saksama hingga terhenti pada pagar pembatas tempat penghalang jalan untuk aku melanjutkan ini. Tetapi dengan keheranan yang menjadi, pagar setinggi lima meter itu, aku panjat dengan memainkan berani tanpa menghiraukan apa yang telah aku lewati.


Setelah melewati jalanan yang penuh bendungan dan halangan, suara yang terdengar tadi mulai menemukan kerasnya. Hingga aku tertunduk diarah tiga, tempat aku meluruskan jalan dari tempat bermula. Hujan terus mengguyur itu tanpa menghentikan langkahku, hingga didepan rumah begitu besar dihiasi usang yang menjadi dan warna putih begitu terlihat telah memudar.


Saat aku sampai didepan pintu rumah usang ini, suara telanjang tadi yang terdengar semakin menjadi, dan dengan saksama suara itu bersumber di halaman belakang rumah ini. Saat aku terus menelusuri hingga setengah memutar rumah ini, aku akhirnya sampai pada taman dihalaman belakang rumah.


Dengan hujan yang semakin lebatnya, air terus mengalir dan tumpah pada tanah-tanah yang berlumpur tempat aku meneruskan langkah. Ketika aku terus menelusuri, hingga akhirnya aku begitu merasa semakin mendekati suara yang begitu mengibaskan ketentraman yang terdengar aneh. Dan suara itu semakin dekat semakin mendekat semakin mendekatnya hingga terhenti langkah kaki ku memandang sesosok yang berdiri disana, .. !!


Aku terengah, begitu terengahnya dengan apa yang telah aku lihat. Karena .. karena itu adalah diriku yang berdiri disana, apa yang telah terjadi dengan sebenarnya? Bukannya itu adalah tempat aku  bermula menunggu hujan datang mengguyurku dengan lebatnya.


Saat heran itu semakin menjadinya, aku semakin heran begitu herannya. Terlihat dari belakang, dia sesosok yang begitu mirip diriku, tetapi apakah itu nyatanya diriku? Heran semakin menjadi ketika kaki ini semakin mendekati yang berdiri tegak disana. Saat aku begitu hampir mendekatinya, dan tangan ini begitu sangat ingin menyentuhnya. Lalu dengan memainkan berani, aku menyentuhnya ..


Saat tersentuh .. susstthhrrr !!! yang tadi jelas jelas diriku, bersimbah dan luluh menjadi air hujan hingga setengah kaki ku tergenang ditanah yang tandus ini dengan bercak-bercak jernih. Semakin heran dan semakin herannya diri ku. Suara siapa terdengar tadi? Kenapa perjalananku memutar kembali kerumah ini? Dan siapa lagi sesosok yang mirip diriku? Semua menyatu dan memutar dan hilang tak memberikan jawaban.


Semakin heran yang menjadi, aku terbaring ditanah yang basah dengan hujan yang semakin menghiasi dipundak ini. Saat aku menghela nafas panjang akan semua yang terjadi, mata ku tertutup dengan memakan lelah hingga terkejam tanpa diketahui dengan genangan yang membasahi di tubuh ini.

Tak tahu apa yang terjadi setelah ini, tak tahu seberapa lama ini, tak tahu dimana ini, ketika mata ini terbuka dengan pelan. Saat terbuka mata ku berputar rancuh dengan memperjelas keadaan hingga terlihat disisi kanan ini, sesosok wanita menggegam tangan usang ini. Tangannya menggegam dengan erat, saat aku mulai membenarkan perasaan, tempat yang tadi aku terlelap mengiyakan tempat aku semula, tetapi subuh yang masih begitu gelap tak memperjelas raut wajahnya.


Saat basah ini semakin menjadinya, aku masih terbaring di tanah lumpur ini dengan air jernih disekilingi, akan keheranan yang menjadi dia masih memegang tangan ini, dengan keheranan yang semakin dan amat menjadi, aku menanti pagi untuk perjelas wajah yang terselubung gelap dengan mengakhiri malam yang panjang atau memperpanjang malam yang basah lalu menjawab semua yang telah terjadi.
 


[06 09 13 10 21]

Komentar