Serpihan Jendela

Keseriusan pada rentang yang bersamaan dengan keindahan rumah di tempat nan sepi. Sepi melanda karena tertutup awan-awan yang memudarkan jalan menjadi semu ketika melintasi pagar berlubang besar pada hembusan angin di hamparan maksud tak berkesudahan akan nyatanya jendela terbuka dengan serpihan-serpihan kaca.

Begitu mendramatisir hingga semuanya ditarik keluar oleh cerita-cerita masa sesudahnya untuk maksud tertentu . Lalu terjawab salah dari semua anggapan, ketika pagi menyala diantara para kawanan jendela yang menarik diri hingga hilang tak berbekas di tempat nan jauh disana. Ntah datang atau tidak, yang pasti dicuri oleh para jejak yang melintas di benak para penghuni sepi.

Lalu bekas tadi sedikit demi sedikit hilang tertutup debu yang bedatangan, usang mulai menutupi keseriusan hingga ribuan tahun datang menjemput, mengikis cerita jendela yang hilang. Jejak yang terpunguti tadi, mulai menjadi tulang belulang diantara tangisan tengadah dan kekesalan yang serius.

Tiap hari mulai mengikis kembali, menunggu datangnya setia yang menjawab diantara pecahan kaca yang terurai menjadi serpihan pisau dengan tangisan yang menadah lelah.

Akankah ini terus berdatangan? Saat angin surga tak menampakan diri kembali pada jendela yang berlumuran darah dengan rumah yang berdebu ramah.

[21 09 13 13 44]

Komentar