Dalam sebuah keramaian,
tetapi merasa diasingkan dari segi mana pun. Ntah semua berpihak atau tidak,
tapi teresapi melewati angan yang begitu mengambang.
Semua berubah, semua
berubah, semua berubah, semua berubah, semua berubah ..
Menyalakan sesuatu yang
lain dari biasanya, semuanya baik-baik saja ketika datang menikam cerahku
menghampiri kolam putih ini untuk pertama kali, tetapi berlanjut dari biasanya
hingga terteralah palsu akan pertimbangan nyata yang ku nyalakan hingga mulai
satu persatu mereka terbayang sesuatu yang ku kira itu adalah benci di balik
layar.
Berjalan melewati
beberapa hari bulan hingga setahun lamanya, yang terjadi tetap saja terjadi.
Mungkin perasaan masih terus berlanjut hingga terasa sekarang dimana semua
tertera. Mereka terus memainkan rasanya hingga menuai beda. Ntah kenapa, ntah
kenapa? Seperti ini kah kehidupan dewasa?
Semakin
menjadi-jadinya, semua terus berlanjut hingga menemui pintu ketiga di kolam
putih ini. Semua berlanjut, ketika kenyataan ini mulai adanya perubahan yang
begitu mendasar dari kehidupan ku, mulai dari teman seperjalanan, teman yang
melekat di tubuh, teman yang melekat di pundak, hingga terus berlanjut
terjawabnya semua asa. Tetap saja mereka terus menganiaya dari sudut yang susah
ku anggap sebagai bahan tawaan.
Semua yang terjadi
tetap saja terjadi, karena begitu sungguh menelan hatiku dengan nyatanya.
Lalu, semua perasaan
mulai menjawab yang terjadi bahwa tak kan ada baiknya hidup ini kalau
terus-menerus seperti ini, ada yang harus dirubah walau tak memakan semua yang
harus ku ubah, dengan sifat yang tak terlalu menyibukan mereka dengan sesuatu
yang bisa dihilangkan dari sudut pertanyaan, sifat yang mendiami semua terjadi
seperti debu yang mengambang di udara, sifat yang tak terlalu menampakan apa
yang telah ada karena sudut mereka mulai tak senang dengan sesuatu yang baru dari
sisi lain kehidupan nyataku.
Mungkin semua terjawab
ketika mulai memakan hari di keramaian ini, lalu ..
Lepas kan itu, karena
mereka yang tak tahu selalu berbicara hingga melepas suara seperti awan-awan
yang bergerak rancuh. Lalu yang tahu, mereka hanya diam dengan duduk ramah
seperti langit yang biru.

Komentar
Posting Komentar