Sekarang adalah masa depan.
Balik dari sebelumnya bahwa kehidupan ini telah mengajarkan masa-masa yang ada untuk tetap melanjutkan asa yang tersembunyi di balik mata.
Tak perlu disesali, tak perlu dibenahi, tak perlu ditentangi, karena semua ada dari nyatanya kehidupan yang selaras dengan setengah kehendak.
Apa yang diharapkan mulai jauh dari rentang kehidupan, mulai tak ada arah yang melenggang karena ada yang menjauh hilang, karena pohon hatinya menutupi cerah matahari yang bersinar disana hingga membuat teduhan hangat ketika ingin mengejar sesuatu yang cerah disana, kecuali waktu yang memainkan itu.
Tetapi yang terus melangkah, tetap dan mulai mengejar asa yang telah dimimpikan, bisa dari rasa hati pribadi maupun rasa Pandu langit yang memberikan arah untuk tenang dikehidupan cerah menjawab sekarang yaitu masa depan.
Hingga kembali ke sekarang, bahwa dari kolam ini, cerah kekerabatan berdatangan. Tapi memakan sela waktu, mulai ada beberapa yang terbang ke semua penjuru karena asa yang tak menampik untuk berpindah duduk dalam satu arah, mengarahkan setir pada asa selanjutnya, biasa yang berpihak dan berperan disana adalah seribu kebutuhan.
Tak lepas dari segala peran, semuanya tinggal kenangan. Mereka yang pergi, memungkinkan untuk kembali jika semua mengenakan dasi-dasi yang terurai di tangan mereka, menandakan bahwa kedewasaan mulai menyimpul di tubuh mereka hingga menjemput hari berdatangan.
Sukses dari segala kedatangan, sukses dari segala kekentalan, sukses dari segala ketenangan, sukses dari segala ketentraman, lebih dalam dari segalanya karena yang ada memang lebih pekatnya sebuah kebersamaan hingga menemui lagi hari berdatangan lainnya.
Kapankah itu? Hanya rasa pribadi yang menjawab semua kebersamaan yang begitu terbangun ramah dalam setiap angan-angan kedatangan. Lalu yang disana, ingatlah masa depan hingga yang ditemui adalah masa lalu dalam lamunan.
[26 10 13 00 36]

Komentar
Posting Komentar