H a m p a

Damai berhendus seni di sebuah kota yang tak begitu indah tetapi tertatanya sebuah kehidupan yang seirama oleh ego terpelihara mati.

Berjalan dengan perlahan, perlahan yang mengeja setiap langkah. Dari segala kendala selalu mengikuti keinginan itu dengan tumpang tindih, dengan cepatnya aku menyadari bahwa semua yang telah berlalu harus ditutupi dengan kekesalan yang menjadikan mimpi selaras dengan kerendahan.

Haruskah mati dipegang selalu dalam angan yang selurus dengan hembusan angin yang tertutup guguran semi di musim yang berterbangan segala putaran yang mengeja.

Ketika semua berputar rancuh

Ketika semua melingkar semu

Ketika dunia mulai membunuh

Pegangi kerendahan yang dipelihara oleh angin kehampaan.

[04 11 13 10 27]

Komentar