Hamparan Putih


Terdiam lalu termenung hingga semuanya mengakhiri masa kepekatan ini.

Suatu hari akan ditemui, ntah kenapa terlalu cepat engkau pergi dengan segala keterjagaan yang menanti sebuah ketentraman disana. Damai yang memisahkan, menjawab segala kerendahan yang pergi menghilang ntah kemana.

Terbawa lara yang begitu terdiam, ntah harus kemana ketika semua yang berlalu menunggu panggilan untuk berjumpa kembali dalam lamunan nanti.

Lalu semuanya menyatu dan berbentuk tangisan yang menadah lelah, semakin banyak yang menetes semakin membuat hati tak kunjung memadamkan api yang terus mengumbar.

Mungkin rasa telah membakar itu menjadi abu yang terlihat di mata telanjang oleh kehidupan kedua ketika semua terlihat beda dari sebelumnya.

Dan bila semuanya terkumpul lagi, aku menyakini ada yang beda ketika kau menampakan diri, mungkin karena kau berbeda dari yang pernah terbukti, mungkin kau berbeda dari yang pernah terlihat dimata ini, mungkin kau berbeda ketika angin membawamu lari, mungkin kau berbeda ketika semua ditinggal mati.

Selalu begini dengan tak pernah kembali karena kau lagi dan lagi ditunggu pada sudut hamparan putih.

Hingga rapuh menjawab semuanya menjadi mati.



Lalu kapankah itu? Ketika nanti kau telah begitu menyayangi seseorang yang berarti, dan menjadi cerita ketika berada di desa dengan hamparan abadi.

[03 11 13 11 30]

Komentar