Tak Seperti Itu

Yang lalu adalah hari ini, ia karena kamu selalu memikirkannya. Sepertinya ada sesuatu yang beda dari kehidupanmu saat semua begitu tak mengenakan perasaan yang terselimuti kekesalan.

Melewati beberapa yang lalu, bahwa semua keindahan itu kamu dapati dengan saksama. Tanpa adanya ini itu hingga berlanjut memainkan perasaan cinta. Dan terjadilah dua kasih yang merajut awan menjadi asa dengan teduhan yang begitu menenangkan.

Tapi selang beberapa lama itu terjadi, mulai adanya perasaan berubah. Semula sebelum mendekapnya hingga sekarang memeluknya, lebih dirasa dan diinginkan adalah awal semula yang begitu menenangkan. Tetapi dalam beberapa sela waktu, mulai adanya kawanan hitam yang menutupi kesenangan itu karena waktu telah mengikis lagi dan lagi kebahagian yang ada dari perilaku yang memainkan rasa yang berbeda.

Hingga akhirnya melepaskan jalan ke awan yang begitu meneduhkan, lalu menarik simpati pada kawanan rasa yang hitam lalu menyelimuti pundakmu hingga akhirnya matamu tertutup yang membuat jalan dengan langkah terengah tanpa tahu jalan yang akan dilangkahkan ketika matamu tertutup awan hitam yang begitu menyejukan.

Kamu melepaskan awan yang menjadi asa untuk mengejar awan hitam yang begitu bergerak cepat melintas dipenglihatan batinmu, hingga mendekap awan hitam itu dengan cara yang kuat. Cerita yang ada mulai melukismu di hari cerah awan hitam itu, dan menyatu dalam kebersamaan nafsu yang terselubung. Tak memakan sela waktu, awan hitam yang selalu mencari tempat terindah dengan menjamu usang akan mengajakmu kesana, karena seperti itulah kehidupan yang tak kamu lihat dari sisi lainnya, tetapi batin yang kuat akan menghempaskan kembali kenyataanmu untuk tetap diam disini yaitu tempat semula kamu menginjakan kaki pertama.

Ketika dua rantai kehidupan mulai tak adanya keseimbangan akibat saling berjauhan mimpi, maka rela dengan relanya melepas kembali yang telah diinginkan dengan cara membunuh kenyataan diri lewat sesuatu yang salah akan rasa yang ditelan.

Saat awan hitam itu kamu lepas dengan dekapan yang membuka, mulai kamu merasa bersalah walau telah diterangkan para kabut kental mengenai dekapan rasa. Tetapi karena keinginanmu yang tak bisa dipungkiri, kamu menarik simpati kembali pada awan pertama yang menjadikan asamu untuk menari bersama di bawah mentari yang begitu meneduhkan. Kembali pada yang lalu untuk hari ini, karena telah melewatkan sesuatu yang begitu meneduhkan untuk sesuatu yang menyejukan. Semua kembali seperti dulu, mulai memainkan rasa diantara awan yang bersebelahan pohon cadar yang menjulang tinggi.

Mulai melukis langit dengan awan yang berterbangan tak terbayangkan, hingga terjalin kasih kembali pada yang lalu. Mulai seakan, kamu merasa selalu diperbaharui oleh sesuatu yang berpangku hati dengan segala hal.

Saat begitu terjalin indahnya teduhan kasihmu, ada yang menyenggolmu dengan diam. Disana begitu didekatmu dengan tingkatan berbeda, mulai memainkan peran walau mempunyai penempa pribadi yang terjalin begitu dinginnya, tetapi ntah kenapa? Dia datang dan datang, selalu dan selalu hadir di tempat kamu mencari mimpi hidup.

Ia mulai memainkan peran yang mungkin terpesona oleh kinerja yang begitu menghanyutkan perasaannya dan jatuh di dinding yang curam akan tadahan air yang menurun dalam senyummu.

Tetapi lagi dan lagi ..

Kamu datang dan menghampirinya, datang mendekapnya walau dengan perlahan, walau telah mengetahui dibelakang seperti apa, tak menjadikan sesuatu yang begitu membebani dirimu, semuanya terkisah seperti rencana yang tak diketahui asal-usulnya.

Dan kini, kamu lepas kembali dan lepas kembali awan yang meneduhkan untuk sesuatu yang begitu menghangatkan dari keadaan semula.

Aku tak tahu lagi, apa yang akan menjadi cerita inginmu, semoga yang ada menjawab batin kebutuhanmu ..

..

Mungkin rasa selalu datang, dimanapun dan kapanpun ketika ada yang melayang di depan wajahmu lalu menari akan sketsa yang begitu menarik mentari dalam upuk timur yang belum menyentuh pagi karena rasa akan melepas semua yang ada untuk sesuatu yang mungkin didapatkan teduh dingin dan hangat lalu dipilah akan rasa yang diinginkan.



Sesuatu yang diinginkan ..
Seperti tali yang teruntai di hati para benak yang tulus, lalu ketika ingin itu hilang maka akan rapuh seiring keinginan baru yang muncul karena simpulan yang tak ada dasar nyata dari kebutuhannya.

Aku mengerti akan itu karena hanya akan tak sesayang seutuhnya apapun mungkin begitu dan tetap seperti itu.


[28 11 13 05 30]

Komentar