Ntah semua benar atau tidak tapi kendati demikian.
Membawa pikiran ke lereng gunung, lalu menelusuri bebatuan yang amat curam, dengan tangan tengadah memetik segala ketenangan, pepohonan yang ada hanya bisa bergoyang dengan alunan nada-nada angin yang mengikuti kenyataan, dan daun-daun hanya bisa berputar mengikuti hembusan.
Berdiri tegak dengan pandangan hampa di antara sudut jalan di bawah pikiran lereng yang kelihatan tenggelam. Segala penglihatan terlena akan lamunan yang tak ada harga apa namanya sebuah pengorbanan dari segala hal, karena semua akan terus berlanjut dan kian terabaikan oleh hijaunya hamparan pepohonan yang mulai mengering.
Dari atas sana langit yang biru pun kian memudar, tak sanggup bertahan jika mengabaikan awan kecil yang menutupi kesenjangan. Walau semua beban tak tersisa, tetapi tak kan membawa pada hal kebaikan.
Lalu kini dari lereng gunung, semua kelihatan mengeja setiap pemandangan yang tak ada henti, ntah karena lama jadi semuanya begitu menghanyutkan. Hanyut yang pelan, bukan karena aliran tetapi terombang-ambing dalam sepi yang kian terus tertutup rapat dalam lamunan yang didiami oleh angin lara.
Hingga hal-hal yang cerah terpayungi oleh senja kemalangan yang tak begitu mengenakan dan kian kembali menutupi kekeringan walau ditemani rintikan pelan yang terus membasahi asingnya dunia.
Saat semua dilihat dari atas sini, aku menghela napas panjang dan melangkah kembali ketika semua telah ditelan, lalu menuruni lereng itu dengan perlahan dan tangan ini menggenggam sehelai daun yang dititipkan oleh hembusan kekeringan.
[21 11 13 23 47]

Komentar
Posting Komentar