Semakin menjajaki hari-hari yang terlewatkan, hati selalu ditemani dengan penantian yang bertahan dalam asa yang memutih.
Kini diantara hari itu, ada hari yang mana jika terlewatkan akan seperti biasanya jika mengabaikan sudut yang aku cari. Lalu hari itu tetap bertahan diantara ruang yang silih berganti dengan sinar matahari yang menunggu di sudut jalan. Jujur saja aku tak mampu menerangkan bias cahaya yang lebih jika disuruh mencari arti disetiap sela waktu yang berdatangan.
Akhirnya hari itu aku datangi walau masih disana, bukan memikirkan salah atau benar, tetapi janji yang harus tetap terlangkahi. Saat memasuki sore yang mengambang itu, sungguh dikibaskan suara-suara yang biasanya dia dentingan dalam kisah-kisah yang terjalani hingga guguran semi mulai mengantarkan pada malam yang dijajaki dengan surat yang terbang diantara deru angin yang begitu melesat. Tak memikirkan apa yang kembali terbang di tangan usang ini, hanya saja yang diketahui aku datang untuk menerangkan kisah yang dijalani, karena tak ada alasan lain selain alasan sederhana yang selalu dipegang teguh antara bayangan, keadaan dan kenyataan.
Berlanjut karena apa? Aku memulai kisah itu dengan senyuman yang mungkin bisa meluluhkan kerasnya hati yang begitu diselimuti oleh kekesalan yang tak bisa dibayangkan saat bertemu kembali di malam yang begitu tenang karena bertepatan dengan banyaknya pohon hijau yang membentuk piramide dan salju yang berdatangan. Tetapi apa pun itu aku hanya memberanikan diri untuk datang menepiskan awan yang begitu memayungi alisnya yang melengkung, karena aku dan ia tak mengetahui sisi lain yang kadang ada dalam kisahnya dan ceritaku, hingga aku ingin semuanya diterangkan ketika bertemu. Lalu semuanya begitu ada dan bisa dikatakan oleh kehidupan yang saling merindu tak terkira karena guguran daun ketiga memberhentikan langkahku yang tertutup semu ketika melintasi lereng kering disana yang tak menghijaukan tumbuhan yang terabaikan ketika keadaan memaksa untuk saling diam.
Dan akhirnya lereng kering itu didatangi hujan, semuanya diterangkan oleh basah mimpi-mimpi ku yang terus bertahan dan asa putih ku yang terus berkibar. Sebelum hujan menghiasi lereng itu, kelihatan dari sudut manapun kalau tempat itu seperti kota mati, tetapi setelah datangnya sebuah pencetus yang basah, lereng yang seperti kota mati tadi menjadi tempat kehidupan yang tak terkira untuk saling mengisi kebersamaan, karena semuanya berlanjut untuk saling memenuhi, melengkapi dan menemani sebagaimana mestinya cerita-cerita orang terdahulu hingga usang pun tiba.
Malam yang penuh rindu dan kekesalan yang terhenti ini, aku mengibaskan janji yang pernah ada dan disudutkan pada hari berikutnya mengenai perjalanan untuk merekam kisah tajuk alam yang dilamunkan, dan ia pun mengiyakan itu dengan kebahagian yang berseri di raut wajah putihnya.
..
Sampai disanakah nyala kehidupan mimpi yang selama ini dipegang? Aku tetap kembali pada mimpi janji yang tak terpenuhi, karena sayap ini akan terbang kembali membasahkan kebahagian itu dengan nyatanya.
3 hari setelah di hari itu, subuh yang begitu dingin dengan perasaan yang lelah menunggu. Aku terbangun dari penjagaan malam, aku menunggu dan memunajatkan dengan keinginan yang tulus untuk menjemput seluruh kendati yang telah dilamunkan. Rintikan hujan terus mengguyur dengan perlahan, walau enggan lari dari desa ini tapi tetap saja memberatkan perjalanan yang telah aku rencanakan. Ketika suara panggilan umat mulai datang di gendang siput ini, aku terdiam dengan kecewa dan penyesalan karena hujan terus saja memainkan tariannya di tempat ini, hingga mataku terkejam dengan tersendiri karena sudah pasti memikirkan tak kan melanjutkan perjalanan di kota yang akan di jajah nantinya.
Sejam telah mengalir di pangkuan ini ketika melihat jam di sudut kandang sayang tempat aku meletakan lelah dari segala kepenatan. Tetapi aku langsung terkejut dengan sendirinya, rintikan yang tadi terus membasahkan desa ini mulai berhenti. Aku langsung mengiyakan itu dengan keluar dan melihat langit yang masih begitu gelap walau hawa dingin terus menusuk tetapi langit mulai nampak pekat kebiruan menandakan mentari dari upuk timur akan menjemput cerah wajah ini. Aku bersyukur dengan segala kerendahan dan membasahkan wajah ini dengan kewajiban sebagaimanamestinya itu dilakukan sebelum pagi yang penuh warna akan datang.
Akhirnya, semua begitu mendukung akan perjalanan ini. Aku melepas dan meninggalkan pintu pamit yang berseri diantara segala disini. Perjalanan yang telah diinginkan, janji yang mulai dilangkahi kini telah membawa pada kebahagian dan dekapan erat antara kasih dan sayang yang nyata karena aku membawa Dara yang ternama dalam naungan serba cerah. Tak luput segala Kental mengikuti itu dengan segala tawa-tawa yang cerah. Awan-awan begitu menemani perjalanan kami, karena matahari tertutup rapat dan hanya sesekali terlihat merapat diantara celah yang berdatangan. Langit kelabu yang begitu mentemakan perjalanan kami sungguh membuka dan menutup perjalanan itu dengan cerah yang begitu tak bisa dipungkiri.
Memulai dari upuk timur mentari hingga termakan tengahnya malam memainkan perjalanan tak terduga yang begitu melelahkan tetapi terkenang dalam angan kebahagian yang selaras dengan penutup akhir tahun yang menyenangkan.
..
Kini janji lama yang dulu pernah ada di tengah genangan, akan selalu terpanjatkan kembali ..
“Suatu saat ramah saudara kita masih berlanjut disuatu tempat oleh-Nya, tetapi belum diketahui oleh kita dengan kedekatan yang sebenarnya terjadi diingatan, separuh kebahagian tertuang dalam tajuk alam.”
Hari-hari itu akan ada dan selalu masih disana, menunggu kedatangan lamunan kita dalam kisah yang menyatu dan mewarnai setiap kehidupan sunyi dan riuhnya cerita sederhana yang menemani dan terjalani oleh kita.
[27 12 13 18 33]


Komentar
Posting Komentar