Pohon Senja

Menapaki senja yang diam, kini semuanya datang membawa segala kerendahan. Beban yang terurai terus dipunguti seiring perjalanan nan panjang. Lalu aku terdiam karena kelelahan yang terus berdatangan.

Senja yang tadinya diam kini mulai mengambang, memudarkan warna indahnya dengan terbenam di upuk barat yang kelam. Aku pun terus berdiam, pandanganku hanya sebatas kedipan seiring hembusan angin yang menyejukan.

Tak jauh dari sana, kelihatan sebuah pohon yang berdiri kokoh dihamparan rerumputan yang begitu luas. Aku menapaki jejak dengan keruhnya beban. Beban yang terdiam terus menerus karena sebagaimana mestinya telah ditakdirkan dengan rencana seperti seharusnya.



Ketika aku sampai disana, pohon ini begitu tinggi, batangnya sungguh besar seperti tiga pelukanku, daunnya sungguh lebat, dan karena sungguh tingginya aku tak bisa melihat ujung dari pohon ini.

Aku pun langsung menyandarkan bahuku di batang besar ini, tetapi ketika aku bersandar, ada pahatan di kayu ini. Seperti pahatan yang dalam untuk memanjat. Ketika itu pun aku langsung berdiri kembali, lalu melihat satu persatu batang dari yang rendah hingga tinggi tempat aku tak bisa melihat lagi pahatan yang ada.

Karena keheranan yang menjadi, pohon besar nan rindang itu aku panjati dengan menginjakan kaki dipahatan yang telah tertera. Naik dan terus naik, memanjat dan terus memanjat, hingga pandanganku seketika itu terhenti oleh sesuatu yang mengindahkan ..

Perasaan ku seketika itu pun senang seiring pandangan yang begitu menghilangkan beban yang terus ada di pundak ini.

Aku mendekati itu dengan segala keinginan, seiring langit yang mulai memakan warna senja dan menggantinya dengan pekatnya malam.

[28 01 14 18 43]

Komentar