Sang Pandu ku


Bebatuan yang terkikis oleh deru angin yang lewat, hujan mulai membawa kebasahan, dan sinar mentari disana terterangkan oleh keharuan. Tampak keras dari sudut manapun melihatnya, keras tak terpikirkan dengan cara apa semua bisa terjadi. hanya saja sertamerta seperti tumpukan hal yang tak bisa terbantahkan di dalam taman yang tak adanya kemudahan.

Taman itu melihatkan cerita dari segala kendala ia datang, hingga akhirnya ia membuat cinta yang tak ada cinta sama sekali saat semua ada dengan sela waktu yang begitu hening.

Kembali bebatuan yang tadi, semuanya terlihat mengeja saat cinta yang hening itu tercipta. Hening didalam bebatuan yang terkikis oleh cuaca, dimanakah berada? Karena dari sudut manapun begitu tak terlihat.

Hingga akhirnya bebatuan yang begitu keras tadi, ada hal keheningan didalamnya. Mengapa? Karena ia begitu persis seperti Panduku, ia dengan rasa yang begitu keras. Kemauannya tak bisa terbantahkan hingga sekarang aku berada dihamparan kasihnya. Tetapi ada hening yang tercipta di dalam dirinya.


Heningnya seseorang yang keras itu seperti bebatuan, dengan begitu banyak hal yang ada didalamnya hingga aku menemukan yang demikian itu lalu tersamarkan oleh asingnya dunia.

Pertama kalinya aku memahami itu, keheningannya yang begitu memahami keinginan yang tak bisa aku bicarakan, tetapi ia memahami itu dengan menghadirkan sesuatu yang begitu membuat aku terengah.

Heningnya selalu saja ada dengan pemikiran yang tak bisa aku terangkan dengan nyatanya, karena dengan ilmu yang ia dapatkan hanya sembilan tahun lamanya tetapi tetap saja ia tak berhenti untuk mencari dan mencari, selalu ada nama akan putaran roda hingga sekarang cara ia menapakan jejak sepanjang pagi yang begitu bervariasi. Selalu berganti tiap sela waktunya, mungkin karena ia terus mengepakan sayapnya untuk merisalahkan keruh kehidupan nyata.

Heningnya terus berlanjut, ketika hobi ku yang bermahkota putih berada di depan mata ini dengan tumpukan kotak yang berlayar kaca dan bercahaya tetapi ia berada disampingku dengan hal yang sama. Aku tertegun diam dan menyukai itu karena ada pembicaraan tentang permainan yang berbeda walau kami sebenarnya rival mengenai itu.

Lalu apapun yang ia lakukan, tak pernah ia mengeluh di depan ku, hanya saja Ibu langit ku yang bisa menerangkan malang yang dinyatakan.

Begitu banyak keheningan yang menjabar akan itu tetapi secara garis besar aku terengah akan pemikirannya yang keras tetapi sebenarnya ada penjabaran dan hal yang baru setelah aku terpaku diam.

Heningnya sesuatu hal di dalam kehidupan adalah yang tak bisa dipikirkan secara naungan teori tetapi ia akan selalu ada dan membuat sekelilingnya terpaku dan terpana hingga diam yang begitu menghanyutkan tetapi bangga akan hal seperti itu.

Setelah memahami itu, sekarang lihatlah ke arah bebatuan disana, bebatuan yang tak ada nilai apa-apa tetapi jika terasah dan terasah oleh kenyataan, maka akan kelihatan hening didalamnya dan menghasilkan berlian yang tak ternilai harganya.

Dan kini dari semuanya itu, aku hanya memahami kalaulah sang Pandu ini tetap dan tetap seperti itu. Aku hanya hening ketika ditanya mengenai kehidupan dari cara bepikir ku, tetap lah orang yang aku tunjuk dan ku ikuti adalah ia dengan cara mengikuti langkahnya yang terus bertahan dari keruhnya dunia, karena bagaimana pun ia selalu memanduku dari aku lahir hingga sekarang mentaatinya untuk seg
ala kebaikan dan keburukannya.

Akhirnya semua itu hanyalah pandangan yang tak terkira karena kagum yang terus berdatangan dan hanya bisa berkata,

Terimakasih Sang Panduku, bangga saja mempunyaimu. Suatu hari aku akan seperti itu. Sekali lagi terimakasih Ayah”






[07 01 14 03 09]

Komentar